DI USIA senja nenek Karsi (65) warga Desa Panjalin Lor, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka harus membesarkan serta menghidupi kedua cucunya yang masih duduk dibangku kelas III dan kelas II Sekolah Dasar setelah kedua orang tuanya meninggal dunia lima tahun yang lalu.
Untuk menghidupi kedua cucunya masing-masing Novianti (10) dan Muawanah (8) tersebut Karsi setiap harinya hanya mengandalkan jualan kacang goreng keliling kampung dengan penghasilan antara 20.000 hingga Rp 30.000 bila jualannya laku seluruhya.
Menurut keterangan Karsi, kedua cucunya tersebut sudah tinggal bersamanya cukup lama setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Semula yang meninggal adalah ayahnya ketika Muawanah masih balita, setelah itu ibunya menyusul akibat sakit keras.
“Selama ini akhirnya saya yang membesarkan kedua anak ini,” kata Karsi yang tak kenal lelah mengurus kedua cucunya serta berjualan keling kampung untuk menghidupi dirinya dan cucunya yang terkadang pula ikut keliling berjualan.
Ketika ditanya soal jaminan sosial yang dimilikinya, karsi mengaku tidak memiliki kartu apapun baik Kartu BPJS ataupun Kartu Indonesia Pintar seperti yang dimiliki warga miskin lain di daerahnya yang keluarganya memiliki anak sekolah atauapun dana Program Keluarga Harapan yang diberikan khusu bagi keluarga yang memiliki baita, ibu hamul atau keluarga yang masih memiliki anak sekolah.
Karsi tidak mengetahui bagaimana cara untuk memproleh itu semua, dia mengaku hanya mendapatkan rasta yang jumlahnya sama dengan keluarga miskin lainnya.
Makanya ketika ada yang sakit Karsi harus berobat dengan biaya sendiri atau membeli obat di warung, atau terkaddang bila sakit yang dideritanya cukup serius berobat ke Puskesmas. Demikian halnya dengan biaya sekolah, dia harus bekerja keras untuk membiayai kedua anak yatim piatu tersebut. Uang hasil jualan setiap hari dengan upah Rp 20.000 hingga Rp 30.000 dikelolanya dengan baik agar bisa tetap makan, anak-anak bisa jajan di sekolah meskipun tak seperti teman-temannya yang lain, serta kebutuhan lainnya seperti bayar listrik dan membeli gas bisa terpenuhi.
Kepala Desa Panjalin Lor, Dulmajid, mengatakan, pihaknya sudah berupaya mengajukan hak-hak keluarga miskin bagi Karsi dan kedua cucunya kepada pemerintah seperti BPJS ataupun Kartu Indonesia Pintar agar biaya sekolah mereka bisa terbantu. Namun hingga kini upaya yang dijalankan belum berhasil.
“Kalau rasta setiap ada kiriman kami berikan seperti halnya kepada keluarga miskin lainnya,” kata Dulmajid.
Baca Juga:
Dia berharap Pemerintah Kabupaten Majalengka dan Pemerintah Pusat berupaya memberikan pasilitas KIP dan BPJS bagi warganya tersebut guna membantu meringankan beban Karsih yang usianya sudah mulai senja. Atau bantuan lainnya untuk biaya sekolah kedua anak tersebut seperti pengadaan seragam sekolah dan alat tulisnya.
![]() |
| Masyaallah, Nenek Karsi Berjualan Kacang Demi Membesarkan Dua Yatim Piatu |
Untuk menghidupi kedua cucunya masing-masing Novianti (10) dan Muawanah (8) tersebut Karsi setiap harinya hanya mengandalkan jualan kacang goreng keliling kampung dengan penghasilan antara 20.000 hingga Rp 30.000 bila jualannya laku seluruhya.
Menurut keterangan Karsi, kedua cucunya tersebut sudah tinggal bersamanya cukup lama setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Semula yang meninggal adalah ayahnya ketika Muawanah masih balita, setelah itu ibunya menyusul akibat sakit keras.
“Selama ini akhirnya saya yang membesarkan kedua anak ini,” kata Karsi yang tak kenal lelah mengurus kedua cucunya serta berjualan keling kampung untuk menghidupi dirinya dan cucunya yang terkadang pula ikut keliling berjualan.
Ketika ditanya soal jaminan sosial yang dimilikinya, karsi mengaku tidak memiliki kartu apapun baik Kartu BPJS ataupun Kartu Indonesia Pintar seperti yang dimiliki warga miskin lain di daerahnya yang keluarganya memiliki anak sekolah atauapun dana Program Keluarga Harapan yang diberikan khusu bagi keluarga yang memiliki baita, ibu hamul atau keluarga yang masih memiliki anak sekolah.
Karsi tidak mengetahui bagaimana cara untuk memproleh itu semua, dia mengaku hanya mendapatkan rasta yang jumlahnya sama dengan keluarga miskin lainnya.
Makanya ketika ada yang sakit Karsi harus berobat dengan biaya sendiri atau membeli obat di warung, atau terkaddang bila sakit yang dideritanya cukup serius berobat ke Puskesmas. Demikian halnya dengan biaya sekolah, dia harus bekerja keras untuk membiayai kedua anak yatim piatu tersebut. Uang hasil jualan setiap hari dengan upah Rp 20.000 hingga Rp 30.000 dikelolanya dengan baik agar bisa tetap makan, anak-anak bisa jajan di sekolah meskipun tak seperti teman-temannya yang lain, serta kebutuhan lainnya seperti bayar listrik dan membeli gas bisa terpenuhi.
Kepala Desa Panjalin Lor, Dulmajid, mengatakan, pihaknya sudah berupaya mengajukan hak-hak keluarga miskin bagi Karsi dan kedua cucunya kepada pemerintah seperti BPJS ataupun Kartu Indonesia Pintar agar biaya sekolah mereka bisa terbantu. Namun hingga kini upaya yang dijalankan belum berhasil.
“Kalau rasta setiap ada kiriman kami berikan seperti halnya kepada keluarga miskin lainnya,” kata Dulmajid.
Baca Juga:
- Subhanallah, Potret Bocah Jualan Makanan Demi Membantu Neneknya Ini Bikin Terenyuh
- Astaghfirullah, Gara-gara 'Burungnya' Tak Bisa Hidup, Kakek Bujang Tua Ini Gagal Perkaos Bocah Tetangganya
- Masyaallah, Rizki Bocah Obesitas Asal Palembang Selalu Lapar Dan Tidur Di Atas Jam 1 Malam
Dia berharap Pemerintah Kabupaten Majalengka dan Pemerintah Pusat berupaya memberikan pasilitas KIP dan BPJS bagi warganya tersebut guna membantu meringankan beban Karsih yang usianya sudah mulai senja. Atau bantuan lainnya untuk biaya sekolah kedua anak tersebut seperti pengadaan seragam sekolah dan alat tulisnya.
